Senin, 07 Desember 2009

BISNIS RUMAHAN UNTUK IBU RUMAH TANGGA

Kiat Bisnis di Rumah oleh Ibu Rumah Tangga
 
 
Liputan di Majalah Pengusaha

Ada yang menarik dari artikel tentang wirausaha ala keahlian natural ibu yang saya kutip dari majalah ayah bunda dibawah ini.

Bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga, tidak selalu harus menjadi inferior, tidak punya kebanggaan karena tidak berkarir di gedung-gedung pencakar langit di jalan Sudirman atau Kuningan, misalnya.

Menjadi Ibu Rumah Tangga sekaligus menjadi pemilik usaha rumahan bisa menjadi salahsatu alternatif sebagai bentuk aktualisasi diri di dalam komunitas sosial dan masyarakat.

Ada 3 kelebihan menjadi Ibu Rumah Tangga sekaligus menjadi pemilik usaha rumahan, yakni:

1. Usaha di rumah, memberikan banyak waktu memberikan perhatian terhadap perkembangan anak-anak.

2. Usaha di rumah, memberikan tambahan bagi pendapatan keuangan keluarga, bahkan bagi sebagaian orang menjadi sumber pendapatan keluarga yang utama.

3. Usaha di rumah, memberikan kesempatan sebuah usaha dapat berkembang menjadi sebuah perusahaan yang lebih terorganisir dan mapan, memberikan banyak waktu untuk bisa belajar berproses bagaimana mengembangkan usaha yang sedang dirintis. Karena pada umumnya usaha di rumah ini dapat dimulai dari modal yang kecil, biaya operasional yang lebih kecil, dan dapat dimulai saat ini juga.


Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh Ibu Malna di http://www.nanaberas.com misalnya atau Ibu Nadia di http://www.bundainbiz.com
atau apa yang dilakukan oleh Ibu Roesmiyati di http://bakmipatriot17.com atau Ibu Yulia di http://moz5salon.blogspot.com/ juga oleh Ibu Desi Marwati di http://www.cikalmart.com

Jadi, Siapa takut berbisnis di Rumah!



Salam,


Moderator CikalMArt

Bergabunglah dengan milist komunitas Retail & Home Business CikalMArt,
kirim email ke: cikalmart-subscribe@yahoogroups.com

Dapatkan sharing info & tanya seputar Retail & Berbisnis di Rumah, kiat bisnis, kiat usaha, peluang usaha, inspirasi bisnis, trend bisnis, dll! di cikalmart@yahoogroups.com


Sumber: http://www.ayahbunda-online.com
Wirausaha ala Keahlian Natural Ibu


Lahir dari keinginan memenuhi kebutuhan si buah hati, usaha 'iseng' itu berkembang pesat. Ibu rumah tangga biasa tiba-tiba "terbelit" bisnis yang mesti dikelola profesional. Ada cara meredam konflik ini.

Pernah dengar nama Julie Aigner-Clark ? Awalnya, ia seorang guru bahasa Inggris biasa yang memutuskan tinggal di rumah mengasuh putrinya yang masih bayi. Rasa frustrasi ketika gagal mencari mainan, buku maupun video yang mendidik, membuat Julie kreatif. Ia mencoba membuat mainan edukatif sederhana, dan dibuatnya video sederhana yang merekam kegiatan Juli sedang bercerita dengan alat bantu gambar-gambar menarik bagi buah hatinya.

Tiba-tiba timbul ide untuk memperbanyak dan menjual video itu bagi ibu-ibu lain dengan keyakinan tidak sedikit ibu butuh mainan, buku maupun video yang mendidik seperti yang ia butuhkan. Mainan dan video yang iseng-iseng ditawarkan dari mulut ke mulut laku cepat.

'Keisengan' Bu Julie ini berubah jadi usaha yang semakin lama semakin besar. Ia beri brand untuk produknya dengan nama Baby Einstein yang memproduksi ratusan judul buku, video dan mainan anak. Usaha Julie yang kemudian dibeli Walt Disney, di tahun 2001 mengeruk keuntungan 20 juta dolar Amerika. Ia menjadi salah satu milyarder yang cukup top di Amerika Serikat.

Ibu, potensi tersembunyi

Seperti Julie, banyak ibu merasa berat meninggalkan buah hatinya di rumah untuk bekerja penuh di kantor. Namun, karena dorongan kebutuhan ekonomi, kebutuhan mengaktualisasikan diri, atau bermula dari iseng-iseng seperti Julie, sebagian ibu memilih menjadi wiraswastawan.

Seorang ibu, menurut Ahmad Gozali , perencana keuangan yang tergabung dalam biro konsultasi perencana keuangan keluarga, Safir Senduk & Rekan, menyimpan banyak potensi tersembunyi. Seorang ibu, misalnya, pasti memiliki bidang yang disukai dan dikuasai secara natural dan menjadi suatu keahlian dasar; seperti merawat, mendidik anak dan mengatur rumah tangga. Keahlian ini merupakan modal dasar.

Pendapat ini didukung pernyataan Dra. Farida Haryoko, M.Psi , staf pengajar di Jurusan Psikologi Industri dan Organisasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia yang menempatkan minat dan penguasaan suatu bidang di tempat teratas, sebagai prasyarat jika ingin terjun di dunia usaha.

"Jika seseorang merasa mampu dan suka apa yang dilakukannya, ia tidak cepat merasa lelah atau terbebani ketika melakukannya. Tentu saja ini modal sangat baik jika hal yang disenangi dan dikuasai dikembangkan menjadi suatu bidang usaha," ujar dosen yang juga sibuk di Bagian Humas Universitas Indonesia.

Prospek cerah, layak dipertimbangkan

Hal sederhana yang tergali dari keseharian seorang ibu dapat dikembangkan menjadi bisnis yang layak diperhitungkan. Simak saja cerita Indira Hadi (40 tahun). Ibu dari Diandra (9 tahun) dan Dianita (5 tahun) ini pada mulanya hanya membuat suatu wadah untuk mengakomodasi kebutuhan kedua putrinya mengembangkan minat dan bakatnya, yaitu menggambar. Ia bersama temannya kemudian mengembangkan tempat ini menjadi suatu tempat kursus pengembangan aneka ekspresi kreatif anak; seperti melukis, membuat berbagai benda kreatif dari benda-benda sederhana, fotografi, mengarang dan sebagainya.

Wadah kreativitas bernama Klub Dino ini sekarang memiliki 10 pegawai dan beberapa guru magang di saat-saat liburan. "Jika dilihat dari grafiknya, muridnya semakin bertambah. Orang tua mulai memahami anak-anak butuh sarana mengekspresikan diri," ujar Indira optimis.

Tidak jauh beda dari Indira, Rahayu Budihati atau akrab disapa Yayu (37 tahun), ibu dari Annisa (9 tahun), Sultan (7 tahun) dan Salman (5 tahun) yang memiliki usaha antar-jemput anak sekolah, awalnya memulai usaha karena kebutuhan kendaraan yang dapat mengantar dan menjemput ketiga anaknya dengan aman. Ia kemudian menawarkan orang-orang tua lain bergabung dengan harapan meringankan beban mereka. Tawarannya bersambut.

Usahanya berkembang pesat. Yayu yang awalnya hanya punya satu kendaraan, kini berkembang memiliki 10 kendaraan dengan beberapa pengemudi. Armada Buah Hati , begitu nama usaha antar-jemput Yayu, sedang mengembangkan usahanya atas permintaan sekolah lain.

Cerahnya prospek usaha semacam ini diakui Ahmad Gozali. "Jika dilihat dari banyaknya ibu bekerja, kebutuhan jasa yang berhubungan dengan pengasuhan, pendidikan anak dan urusan rumah tangga menjadi tinggi. Usaha-usaha seperti wadah kreativitas dan pendidikan, tempat penitipan anak, menyediakan kebutuhan ibu dan anak, antar-jemput anak sekolah dan sebagainya semakin dicari," ujar Ahmad Gozali.

Kendala lebih kecil

Berkecimpung di bidang yang tidak jauh dari kebutuhan si buah hati dan keluarga, baik Indira Hadi maupun Yayu tak merasakan terlalu banyak kendala, terutama yang berhubungan dengan keluarga. "Klub Dino bertempat di ruko dekat rumah (hanya 5 menit berjalan kaki). Anak-anak biasanya ikut berkegiatan di sana. Cara ini membuat mereka tidak terlalu kehilangan saya atau bahkan terlantar. Mereka justru dapat menyerap keterampilan dari tempat ini, sehingga keinginan saya untuk dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat namun tidak terlalu merugikan anak-anak tercapai," jelas Indira Hadi.

Hal serupa diungkapkan Yayu. "Anak-anak senang sekali karena hampir setiap hari ibu ada di rumah. Berbeda dengan pekerjaan saya dulu sebagai pramugari di perusahaan penerbangan asing. Sekarang ini paling-paling saya sendiri menyetir mobil antar-jemput jika diperlukan. Suami saya senang karena usaha saya justru memudahkan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik."

Menurut Farida, berwirausaha terutama pada bidang-bidang yang tidak jauh dari urusan anak, ibu dan rumah tangga tidak terlalu banyak memunculkan konflik bagi para ibu pelaku usahanya, dibanding bekerja di kantor atau pekerjaan lain yang harus sering meninggalkan anak di rumah. "Usaha jenis ini membuat ibu lebih mudah mengatur waktu dalam menjalankan peran ibu. Ibu pun dapat mengambil manfaat dari usaha ini untuk kepentingan keluarganya. Konflik atau kendala baru muncul jika usaha semakin berkembang, sehingga menyita lebih banyak waktu ibu untuk bermulti peran," jelas Farida.

Untuk menghindari hal tersebut, Farida menyarankan memikirkan matang-matang berbagai konsekuensi sebelum memutuskan berwirausaha, dan memikirkan berbagai cara mengantisipasi masalah yang mungkin timbul. Keterbukaan terhadap pasangan merupakan salah satu syarat mutlak agar tidak muncul konflik, namun justru mendapat dukungan yang membantu ibu menjalankan usahanya.



Langkah-Langkah Sukses

Ahmad Gozali , ahli perencana keuangan keluarga, memberi tips sebelum memulai usaha:
• Memikirkan untung rugi
Apakah kegiatan usaha atau pekerjaan yang ditekuni justru lebih banyak menghabiskan uang dibandingkan jika tidak bekerja?. Misalnya, wirausaha membuat ibu harus mengeluarkan biaya untuk pemakaian telepon, listrik, biaya transportasi dan sebagainya, sehingga jika dihitung justru mendatangkan kerugian. Selain untung-rugi secara material, untung-rugi nonmaterial juga diperhitungkan. Misalnya, apakah usaha yang dijalankan membuat ibu justru kerap meninggalkan anak-anak?
• Menyiapkan modal usaha
Modal usaha dapat diperoleh melalui sebuah perencanaan matang, yaitu dengan menyisihkan sejumlah uang setiap bulan sehingga pada saat direncanakan, tabungan dapat digunakan sebagai modal. Sebaiknya modal juga merupakan tabungan yang sama sekali tidak dialokasikan untuk biaya tak terduga, dana darurat, maupun tabungan-tabungan bertujuan lain. Untuk ini Anda juga perlu mencermati risiko plus-minus berhutang. Konsultasikan hal ini pada ahli keuangan.
• Sesuai minat .
Bidang usaha yang dikuasai dan diminati dapat mengurangi faktor risiko.
• Melihat kebutuhan pasar
Cermati kompetitor. Apakah ada kompetitor dengan bidang usaha yang sama di lingkungan tempat ibu berusaha? Bagaimana animo masyarakat terhadap bidang usaha tersebut?
• Kreatif mencari diferensiasi usaha
Jika bidang usaha yang akan ibu lakukan banyak dijalankan beberapa kompetitor, cobalah kreatif mencari diferensiasi dari usaha yang sama. Seperti Yayu yang menyediakan buku bacaan bermutu dan alat komunikasi di setiap mobil antar-jemputnya. Atau, Indira yang menyediakan paket kursus spesial liburan.
• Mengantisipasikan berbagai masalah . Siapkan berbagai alternatif cara mengatasi masalah.
• Mulai dari yang kecil dan tidak butuh banyak modal.
Usaha yang dimulai dari rumah biasanya lebih memudahkan ibu menjalankannya dengan risiko relatif lebih kecil dibanding menyewa tempat di luar rumah.



Jangan Lakukan!

Jangan mencampur aduk keuangan keluarga atau pribadi dengan keuangan usaha. Pisahkan secara tegas urusan rumah tangga dan urusan usaha. Misalnya, seorang ibu memasukkan anak ke TPA (Tempat Penitipan Anak) yang dikelolanya, ia harus memperlakukan si anak sama dengan anak lain. Anak harus dicatat sebagai konsumen yang juga dianggap membayar.



Kiat-kiat Bagi Pemula
Yayu:
• Jangan punya usaha yang hanya bertarget semata-mata demi keuntungan.
• Terbuka terhadap saran dan kritik konsumen.

Indira Hadi:
• Keseriusan merupakan modal utama dalam berusaha, sekecil apa pun usaha tersebut.
• Manajemen waktu yang baik merupakan kunci sukses sehingga ibu sebaiknya menyeimbangkan waktu dalam mengurusi usaha, mengurus rumah tangga dan memenuhi kebutuhan pribadi, seperti bersosialisasi.


Bisnis dan Rumah Tangga Harus Seimbang

Dra. Farida Haryoko, M.Psi
S taf pengajar Jurusan Psikologi Industri dan Organisasi, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

Kesempatan terjun di dunia usaha bagi seorang ibu memang terbuka lebar, dan semakin menggiurkan. Apalagi ada kemungkinan dapat melakukan usaha dari rumah, sehingga dapat sambil mengatur rumah tangga dan mengawasi anak-anak. Namun, bagi ibu pelaku usaha, bukan berarti jika bekerja di rumah waktu kerja semakin sedikit. Justru waktunya dapat tersita tanpa disadari karena komitmen menjalankan usahanya. Bukankah usaha itu milik sendiri sehingga hidup-mati usaha sangat tergantung pada tanggung jawab ibu sebagai pelaku usaha?

Tentunya ada waktu untuk keluarga yang dikorbankan. Untuk itu pelaku usaha harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengurus usaha dan waktu untuk mengurus rumah tangga. Selain itu, ibu juga harus mengkomunikasikan secara terbuka pada pasangan. Untungnya bersikap terbuka ini, ibu mendapat dukungan suami, sehingga bisa bertukar pikiran atau bahkan suami bisa turut berperan saat dibutuhkan.

Lebih dari itu, sebelum memulai usaha ibu harus benar-benar memikirkan tujuannya berwirausaha dan segala konsekuensinya. Semua ini perlu dilakukan untuk mengurangi konflik yang mungkin timbul saat menjalankan usaha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar