Senin, 07 Desember 2009

USAHA PECEL LELE

Menggiurkan

 

 
Keuntungan 25 – 30 Persen

Siapa yang tidak kenal dengan Pecel Lele? Menu makanan ini sering terpampang jelas di spanduk-spanduk warung tenda kaki lima di sudut-sudut jalanan kota. Tak hanya di Ibukota, di kota- kota lain pun warung tenda yang menjual menu ini dapat dengan mudah ditemui. Dari segi popularitas menu ini tentu tak diragukan lagi.  Hal ini membuktikan, citarasa Lele yang disajikan dengan sambal dan lalapan  ini bisa diterima banyak kalangan di berbagai daerah. Dari sisi usaha, Pecel Lele juga tak bisa diremehkan, keuntungan bersih usaha ini  sekitar 25% - 30% dari omset yang diperoleh. Seperti apa lika-liku usahanya?

Jenis ikan tak bersisik, licin dan berkumis ini, terbilang sangat populer bagi bangsa ini, karena bisa ditemukan di berbagai daerah. Di Indonesia ikan Lele mempunyai beberapa nama daerah, antara lain: ikan Kalang (Sumatra Barat), ikan Maut (Gayo dan Aceh), ikan Pintet (Kalimantan Selatan), ikan Keling (Makassar), ikan Cepi (Bugis -Sulawesi Selatan), ikan Lele atau Lindi (Jawa Tengah). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan Lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.

Jenis makanan berbahan Lele yang paling dikenal, terutama di Pulau Jawa adalah Pecel Lele. Yang dimaksud adalah ikan Lele yang digoreng kering dengan minyak, lalu disajikan dengan sambal lalapan, yang biasanya terdiri dari kemangi, kubis, ketimun,dan sambal. Namun menu ini biasanya tak pernah hadir sendiri, para pedagang pecel Lele selalu juga menyajikan Ayam Goreng, Ati Ampela, dan Tahu Tempe Goreng. Banyak juga yang melengkapinya dengan Bebek Goreng, bahkan Burung Dara Goreng, yang juga disajikan dengan sambal dan lalapan.

Banyak juga pedagang Pecel Lele, yang juga menjual Soto Lamongan, karena memang sebagian besar penjual Pecel Lele berasal dari Lamongan. Menurut seorang pedagang Pecel Lele di daerah Kebayoran Lama yang ditemui Info Kuliner, para penjual Pecel Lele pada mulanya terkonsentrasi berasal dari Kecamatan Sekaran, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Lamongan bagian utara yang berbatasan langsung dengan Bengawan Solo. Pada perkembangannya, orang-orang dari daerah lain di Lamongan  juga  banyak terjun ke usaha ini, dengan merantau ke berbagai daerah. Kini karena popularitasnya, Pecel Lele juga mulai banyak digeluti orang dari luar Lamongan, meski demikian, Pecel Lele masih identik dengan orang Lamongan.

Salah satu pengusaha Pecel Lele asal Lamongan yang tergolong sukses untuk ukuran kaki lima adalah Hamung Siswoyo. Mantan karyawan sebuah bank swasta ini memilih keluar dari pekerjaanya dan membuka warung tenda Pecel Lele dengan konsep lesehan di daerah Dapur Susu, Pondok Labu, karena melihat rekan-rekan sedaerahnya yang membuka usaha ini cukup berhasil. Dalam satu malam warungnya menghabiskan 8-10 kg Lele, dan 27-30 ekor ayam, 30 tusuk ati ampela dan 150 potong tahu tempe. Omsetnya per malam rata-rata Rp 1,8 juta, dengan keuntungan bersih sekitar 29% dari omset. Sebuah angka yang lumayan bukan?

Proyeksi Keuntungan. Dari simulasi perhitungan usaha Pecel Lele yang dilakukan Info Kuliner, diperkirakan modal awal yang diperlukan untuk memulai usaha Pecel Lele kelas kaki lima dengan dua orang karyawan, diperlukan modal sekitar Rp 4,5 juta untuk membeli barang modal dan bahan baku awal. Biaya operasionalnya yang meliputi sewa tempat, karyawan, transportasi dan lain-lain diperkirakan sekitar Rp 2,2 juta. Jika dalam sehari warung ini bisa menarik 50 orang pengunjung dengan asumsi per orang menghabiskan Rp 10 ribu untuk makan dan minum, dalam waktu kurang lebih satu bulan modal awal yang dikeluarkan bisa kembali. Namun jika jumlah pengunjung di bawah asumsi, tentunya butuh waktu sedikit lebih lama untuk balik modal.

Jenis Lele yang biasa digunakan adalah Clarias Batrachus atau Lele biasa, bukan Lele Dumbo atau Clarias Gariepinus.  Harga pasaran Lele saat ini per kilo sekitar Rp 12 ribu, ukuran yang biasanya digunakan untuk Pecel Lele yang sekilo berisi tujuh atau delapan ekor, berarti per ekor harga Lele sekitar Rp 1,7 – 1,8 ribu. Sedangkan harga ayam per ekor yang biasa digunakan untuk Pecel Lele adalah Rp 12-14 ribu, satu ekor dipotong empat bagian, artinya satu potong ayam harga mentahnya antara Rp 3 – 3,5 ribu. Dengan cara penyajian dan pelengkap yang sama, dan harga jual rata-rata yang biasanya hanya selisih seribu rupiah, (Pecel Lele rata-rata dijual di Jakarta Rp 7 ribu - ayam Rp 8 ribu), keuntungan Pecel Lele tentu lebih tinggi. Namun rata-rata dari volume penjualan Pecel Ayam biasanya lebih tinggi. Karena itu Pecel Lele jarang berdiri sendiri, selalu dijual didampingi Pecel Ayam, Tahu Tempe, dan Ati Ampela dan tentunya Nasi Uduk, selain nasi putih biasa.

Popularitas Pecel Lele, bisa menjadi keuntungan bagi yang ingin menggeluti usaha ini, karena Anda tak perlu lagi repot-repot memperkenalkan seperti apa Pecel Lele, namun hal ini juga menjadi sebuah kendala, karena banyaknya pedagang Pecel Lele. Tentunya persaingan akan sangat ketat. Karena itu, dibutuhkan sesuatu yang berbeda dan lebih dari yang lain.

Faktor penentu rasa Pecel Lele, adalah sambalnya. Sambal untuk Pecel Lele yang standar berbahan dasar tomat, cabe, terasi, bawang merah, bawang putih, garam, dan sedikit gula merah, dan jeruk limo, ada juga yang menggunakan sedikit kacang tanah. "Pecel Lele itu bumbu standarnya ya sama aja, yang menentukan sambalnya, karena walaupun pada dasarnya sama, takaran komposisinya yang beda-beda," ungkap Sri Hartini, salah satu pedagang Pecel Lele di Pondok Labu. Untuk membuatnya lebih nikmat Sri Hartini juga menambahkan biji wijen yang dihaluskan bersama sambal. Campuran wijen dalam sambal membuat citarasa sambalnya jadi lebih mantap.

Beberapa Varian Pecel Lele. Beberapa pedagang Pecel Lele, ada juga yang menawarkan Pecel Lele yang "beda". Seperti pada warung tenda Citra Spesial di bilangan Fatmawati milik Suwanto. Lelaki asal Kebumen ini menyajikan Pecel Lele bersama Nasi Uduk dengan dua jenis sambal, sambal kacang dan sambal tomat, seperti yang biasa digunakan Nasi Uduk ala Kebon Kacang. "Warung ini dulu memang saya beli dari keturunan Bang Saman Kebon Kacang, dulu letaknya di Jalan Wahyu. Jadi resep Nasi Uduk dan sambalnya sama, namun saya sudah tidak bungkus Nasi Uduk dengan daun kecil-kecil, biar praktis lagsung di piring," ungkap Suwanto. Jika Nasi Uduk Kebon Kacang tidak ada lauk Lele, karena banyak permintaan Suwanto juga menyediakan Pecel Lele namun dipadukan dengan sambal ala Nasi Uduk Kebon Kacang. Selain Nasi Uduk dan Pecel Lele, Suwanto yang pernah bekerja di Restoran Citra, juga menyediakan menu Nasi Goreng, Kwetiau, Mie Goreng, Cap Cay, dan Fu Yung Hai.

Nasi Uduk Barokah, di Jl. Raden Saleh, juga menawarkan varian Pecel Lele yang berbeda. Ahmad Sulaeka, pemilik rumah makan ini, menawarkan Lele Bakar, dengan bumbu yang lebih kompleks, untuk bumbu olesnya menggunakan bawang putih, bawang merah,  ketumbar, jintan, lada,  kunyit, jahe, cincangan bawang bombai, irisan daun jeruk,  sereh yang dimemarkan, mentega, garam dan penyedap. Bumbu yang cukup banyak ini membuat rasa Lele Bakar-nya lebih kaya. Untuk sambalnya, selain bumbu standar sambal Lele, Cak Mamat menambahkan wijen, dan Kacang Mede pada sambalnya. Hasilnya, 480 ekor Lele habis terjual dalam sehari untuk empat warungnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar