Senin, 07 Desember 2009

MARKETING ALA NABI MUHAMMAD SAW

Kemandirian, Entrepreneurship, Etika dan Strategi Bisnis; Teladan dari
Rasulullah SAW


Teladan dan contoh terbaik bagi manusia adalah Rasulullah Muhammad
SAW. Beliau adalah teladan hidup yang menyemai banyak kebaikan dalam
rangkaian keindahan hidup. Dari beliau juga bisa kita ambil teladan
bagaimana merintis, mengelola dan mengembangkan bisnis secara lurus
dan bersih. Beliau telah memancangkan tonggak teladan untuk meraih
sukses menjadi entrepreneur secara benar. Keteladanan yang akan
senantiasa layak diikuti setiap generasi dari semua generasi sekarang
maupun yang akan datang.

Sayangnya seringkali kita kesulitan untuk mendapati informasi tentang
karir bisnis Rasulullah sang teladan. Kalaupun kita mendapatinya
seringkali terpotong-potong dalam berbagai kitab Shiroh. Terpadu dalam
rangkaian sejarah yang kompleks. Untuk itu kita memerlukan bahan yang
lebih ringakas untuk melihat tentag karir bisnisnya secara lebih
jelas, seperti:

o Bagaimana Rasulullah merintis bisnisnya. Menyiapkan mentalitas dan
karakter kepribadian yang kemudian mendukung kesuksesan bisnisnya.

o Bagaimana ketekunan, kejelian dan kesuksesan bisnis yang telah
dijalankan oleh Rasulullah. Bagaimana kisah menariknya. Bagaimana
strategi pemasaran dan customer service-nya. Bagaimana menghadapi
kompetitor.

o Bagaimana pengalaman bisnis beliau. Sejauh mana relasi dan
pengalaman beliau dalam menekuni bisnis ini sehingga sangat memahami
permasalah bisnis. Yang kelak dikemudian hari ketika kenabian itu
turun, pemahaman ini menjadi sangat komprehensif untuk memberikan
panduan hadits yang digunakan sumber Fiqih Muammalat untuk memberikan
framework 'berbisnis secara syariah'.

o Apa kiat-kiat kesuksesannya. Dan bagaimana nasihat beliau untuk
pebisnis modern agar sukses besar. Sukses bukan hanya didunia saja.
Tetapi beruntung didunia dan diakhirat.

Merintis Bisnis
Mengkaji pribadi beliau, kita akan mendapatkan jiwa entrepreneurship
beliau sudah dipupuk sejak dini. Allah mentarbiyah (mendidik) kekuatan
pribadinya sejak kecil dengan hidup dalam kondisi yatim-piatu. Beliau
memulai mengasah mentalitas wirusahanya dengan menjadi pengembala.
Beliau menjadi pengembala untuk orang-orang Mekkah di masa
kanak-kanaknya. Dengan menjadi pengembala beliau mendapatkan upah.
Beliau mengembalakan biri-biri orang Quraisy ketika masih terlalu muda
ini guna meringankan sedikit beban yang ditanggung oleh pamannya.
Beliau ingin berpenghasilan dan bisa mandiri. Tidak hendak berpangku
tangan hanya sekedar bermain saja.

Sebagai anak muda yang jujur dan punya harga diri, beliau sama sekali
tidak suka berlama-lama menjadi tanggungan pamannya yang memiliki
beban keluarga besar. Beliau kemudian dalam usia mudanya melanjutkan
menjadi pebisnis dalam bidang perdagangan. Jiwa enterepreneurship- nya
semakin kuat karena sejak usia 12 tahun telah mengikuti perjalanan
bisnis pamannya yang meliputi; Syria, Jordan, dan Lebanon saat ini.

Muhammad melihat peluang bisnis sebagai sarana yang menarik untuk
mandiri. Hal ini setidaknya cukup dipengaruhi oleh kondisi yang
melingkupinya. Saat itu kondisi Mekkah yang paling berkembang adalah
bisnis perdagangan. Tanahnya yang kering sangat sulit untuk bercocok
tanam. Kejelian melihat peluang keuntungan terbesar pada sektor
perdagangan kemudian membuatnya menekuni bisnis perdagangan ini.
Selain itu latar belakang keluarganya adalah pebisnis yang sangat kuat
dan sukses. Sebagaimana sejarah mencatat, empat orang putera Abdul
Manaf (kakek-kakeknya) adalah pemegang izin kunjungan dan jaminan
keamanan dari para penguasa dari negara-negara tetangga seperti
Syiria, Irak, Yaman dan Ethopia. Mereka dapat membawa kafilah-kafilah
bisnisnya ke berbagai negara tersebut secara aman dan lancar.

Selain itu, Muhammad dilahirkan pada masa kaum Quraisy mencapai
kejayaan dalam perdagangan. Sejak kecil beliau juga dirawat kakeknya
Abdul Muthalib yang juga pebisnis. Setelah kakeknya meninggal,
Muhammad kemudian tinggal bersama pamannya Abu Thalib yang berprofesi
dalam bisnis perdagangan pula.

Sebagai anak muda yang lembut hati, berazzam kuat dan memiliki harga
diri yang tinggi, beliau sama sekali tidak suka berlama-lama menjadi
tanggungan sang paman. Ketika menginjak semakin dewasa dan menyadari
bahwa pamannya memiliki beban berat keluarga besar yang harus diberi
nafkah, beliau mulai berdagang sendiri di Makkah. Profesi sebagai
pebisnis ini dimulai dalam sekala yang kecil dan bersifat pribadi.
Beliau membeli barang-barang dari satu pasar lalu menjualnya pada
orang lain.

Muhammad adalah seorang pemuda miskin yang memulai bisnisnya dari
tahap awal. Terkadang bekerja untuk mendapatkan upah dan terkadang
sebagai agen untuk beberapa pebisnis kaya di kota Mekkah. Dalam
mencari nafkah yang halal beliau bekerja keras, sungguh-sungguh dan
cermat menggeluti profesi bisnis ini yang tentunya tidak hanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup tetapi juga membangun reputasi dimata para
pemodal, relasi dan pelanggan.

Beliau juga telah memasuki kerjasama bisnis bersama dengan beberapa
orang. Sebagai pribadi yang dikenal jujur (shidiq) dan terpercaya
(amin) oleh masyarakat, beliau memiliki kesempatan untuk mengembangkan
bisnisnya dengan menjalankan modal orang lain. Diantaranya menerima
modal dari para janda dan anak yatim dengan sistem upah maupun bagi
hasil.

Beliau juga pernah bermitra dengan Saib ibnu Ali yang pernah
menyatakan dan mengakui bahwa Muhammad adalah mitranya dalam berdagang
dan selalu lurus dalam perhitungan- perhitungannya. Salah satu dari
mitra pemodal lainnya adalah Khadijah, salah seorang konglomerat kaya
di masa itu.

Muhammad menjalankan kontrak syirkah (kerjasama) dengan sistem upah
maupun bagi hasil (mudharabah) dengan Khadijah. Kadang-kadang dalam
kontraknya Muhammad sebagai pengelola (mudharib) dan Khadijah sebagai
sleeping partner(shahibul maal) dan sama-sama berbagi atas keuntungan
maupun kerugian. Terkadang pula Muhammad menjadi pebisnis yang
digaji/medapatkan upah untuk mengelola barang dagangan Khadijah.
Diantaranya Khadijah pernah mempercayakan kepadanya modal untuk
bertolak ke Syiria.

Dalam masa usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam
perjalanan bisnis Muhammad karena beliau harus mandiri dan bersaing
dengan pemain-pemain senior dalam perdagangan regional.

Ketekunan, Kejelian dan Kesuksesan
Muhammad kemudian banyak melakukan perjalanan-pejalana n bisnis dengan
modal Khadijah ini. Beliaupun telah sering mengunjungi Bahrain dalam
rangkaian lawatan bisnis. Beliau adalah seorang saudagar ulung. Beliau
pernah mendapatkan imbalan seekor unta muda untuk setiap kali
perjalanan ke kota-kota dagang di sekitar Yaman. Sebuah Hadits juga
menjelasakan, diriwayatkan oleh adz-Dzahabi dari Nabi "saya telah
melakukan dua kali perjalanan dagang untuk Khadijah dan mendapat upah
dua ekor unta betina dewasa" (Jami' ash-Shagir).

Ketekunan dan kesungguhan beliau dalam berbisnis juga sangat menonjol.
Beliau pernah menunggu pembelinya, Abdullah bin Abdul Hamzah selama
tiga hari. Abdullah bin Abdul Hamzah mengatakan: "Aku telah membeli
sesuatu dari Nabi sebelum beliau menerima tugas kenabian, dan karena
masih ada suatu urusan dengannya maka menjanjikan untuk mengantarkan
padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun
pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada disana". Nabi
berkata, "Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini selama tiga
hari menunggumu" (HR. Abu Dawud). Sebuah kesabaran dan pengorbanan
yang luar biasa untuk tidak membuat relasi atau pelanggan (customer)
kecewa. Tidak pula lantas marah, kecuali hanya menyampaikan bahwa
telah menunggu tiga hari.

Kecerdasan Bisnis beliau sangat teruji. Beliau pernah ketika menjual
barang dagangan di pasar-pasar Busra meraih keuntungan dua kali lipat
dibanding pebisnis-pebisnis yang lain. Ketika Khadijah mendapatinya
dengan keuntungan yang sangat besar yang belum pernah diraih siapapun
sebelumnya maka Khadijah memberikan keuntungan yang lebih besar
daripada yang telah mereka berdua sepakati sebelumnya.

Kecerdikan dalam berbisnis dan penguasaannya tehadap pasar juga sangat
luar biasa. Pada suatu waktu Muhammad diminta membawa dagangan milik
Siti Khadijah. Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur dalam segala
hal, sehingga digelari Al-Amin (orang yang paling dapat dipercaya).
Hal itu pun diterapkan dalam berbisnis. Para pebisnis Quraisy Mekkah
tidak suka kepada Muhammad yang jujur dalam berdagang ini. Bagi
mereka, dagang ya dagang, jujur ya jujur. Mereka berpandangan tidak
bisa kedua hal itu dipadukan. Akhirnya mereka membuat rencana untuk
membangkrutkan Muhammad. Ketika rombongan pedagang Mekkah itu membawa
barang dagangan ke Syam (sekarang dikenal dengan nama Suriah), mereka
sengaja menjatuhkan harga. Muhammad tidak mau melakukannya, karena
yang dia bawa adalah dagangan milik Siti Khadijah, bukan miliknya
sendiri. Beliau harus amanah.

Selain itu, beliau telah sangat memahami kondisi pasar saat itu bahwa
jumlah permintaan (demand) jauh lebih tinggi dari jumlah penawaran
(suplay). Beliau memahami seluruh barang pasti akan terjual karena
permintaan lebih tinggi dari jumlah barang yang tersedia. Karena itu,
bila barang dagangan para saudagar Quraisy itu habis, pasti konsumen
akan tetap mencari barang tersebut. Benar saja, ketika dagangan yang
harganya dibanting itu habis, maka masyarakat akhirnya membeli
barang-barang kepada Muhammad dengan harga normal. Ketika rombongan
pedagang itu pulang, Mekkah pun gempar. Semua pedagang rugi, kecuali
Muhammad yang untung besar. Inilah contoh kejelian melihat,
menganalisis, dan memahami pasar serta keberkahan dari sikap jujur dan
amanah. Ini juga merupakan bukti kemampuan merespon strategi pesaing
secara jernih.

Karier bisnis Muhammad semakin kuat dalam usia 25 tahun. Usia ini
merupakan titik keemasan entrepreneurship Muhammad setelah mendapatkan
back-up financial yang lebih mapan dari sang Istri Khadijah yang telah
dinikahi. Tak heran dari kesuksesan bisnisnya kalau kemudian maskawin
yang beliau serahkan ketika pernikahan juga sangat besar pada waktu
itu. Maskawinnya adalah 20 ekor unta muda. Hal ini merupakan bukti
keberhasilan beliau sebagai pebisnis. Sejarah juga telah mencatatkan
bahwa beliaulah pribadi yang pernah ber-Qurban dalam jumlah yang
sangat besar. Mengurbankan 100 Unta secara pribadi. Kalau kita hitung
kasar saja, satu ekor untuk sekarang berkisar Rp 7-10 Juta. Berarti
Qurban beliau senilai Rp 700 juta s/d 1 milyar-an. Jumlah yang sangat
besar untuk Qurban dari seorang pribadi pada sepanjang sejarah
peradaban.

Setelah menikah dengan Khadijah, beliau tetap melangsungkan bisnis
perdagangan seperti biasa. Membawa dagangannya ke berbagai daerah di
semenanjung Arabia dan negeri-negeri perbatasan Yaman, Bahrain, Irak
dan Syiria. Namun sekarang ia bertindak sebagai manajer sekaligus
mitra usaha istrinya.

Pengalaman Bisnis
Muhammad dengan ketekunan dan kesungguhanya kemungkinan besar telah
mengunjungi pusat-pusat bisnis perdagangan yang terkenal di Arabia
berulangkali. Beliau juga bertemu dengan konglomerat dari berbagai
wilayah. Pusat-pusat bisnis perdagangan di Arabia yang terkenal
diantaranya; Pertama, Fumatul Jandal: pusat bisni yang terkenal ini
terletak di ujung utara Hijaz di dekat perbatasan Syiria waktu itu.
Pekan bisnis diadakan setiap tahun pada awal bulan Rabi'ul Awwal di
tempat ini. Saat seperti itu para pebisnis dari jauh dan dekat
berdatangan ke tempat tersebut. Pasar ini berlangsung hingga akhir
pekan.

Kedua, Mushaqqar: tempat pekan bisnis ini pada sebuah kota yang
terkenal di Hijar (Bahrain) mulai awal Jumadil Awwal. Berlangsung
sebulan penuh. Ketiga, Suhar: ini adalah sebuah kota di Oman. Pekan
bisnis ini berlangsung selama lima hari pada bulan Rajab. Keempat,
Dabba: ini adalah salah satu dari dua kota pelabuhan Oman. Para
pebisnis dari daerah Sind, Hind (India), Cina dan banyak negara-negara
timur lainnya datang ketempat ini untuk berbisnis.

Kelima, Shihr (Maharah): sebuah kota yang terletak disebelah pantai
laut Arabia, antara Aden dan Oman. Kota ini terkenal dengan parfumnya
yang dikenal dengan 'Amber'. Pekan bisnis ini dilangsungkan sejak awal
hingga pertengahan bulan Sya'ban. Keenam, Aden: pekan bisnis di Aden
diadakan mulai tanggal satu hingga sepuluh Ramadhan. Banyak pebisnis
dari timur dan selatan berdatangan untuk berbisnis. Ketujuh, San'a:
ibukota Yaman. Pekan bisnis diadakan mulai tanggal sepuluh hingga
akhir Ramadhan. Kedelapan, Rabiyah: nama sebuah kota di Hadramaut.
Pasar bisnis ini diadakan mulai tanggal lima belas Dzulqa'dah dalam
waktu satu bulan.

Kesembilan, Ukaz: nama sebuah tempat diujung Najd (dekat Thaif). Pasar
bisnis ini bersamaan dengan pasar yang berada di Hadramaut. Pasar ini
melebihi pasar-pasar lain dalam hal kemegahan fasilitas bisnis, omzet
transaksi bisnisnya dan peserta bisnis dari berbagai wilayah. Pasar
ini banyak dikunjungi pebisnis dari suku-suku Hawazin, Ghatafan,
Aslam, Ahabish, Adl, ad-Dish, al-Haya, al-Mustaliq dan Quraisy.

Kesepuluh, Dul Majaz: terletak didekat Ukaz (antara Ukaz dan Makah),
dan pasar bisnis diadakan pada tangal satu hingga tanggal tujuh bulan
Dzul-Hijjah. Kesebelas, Mina: pasar bisnis berlangsung selama musim
Haji (dekat Mekkah). Keduabelas, Nazat: terletak diwilayah Khaibar
mulai tanggal sepuluh sampai akhir bulan Muharam. Ketigabelas, Hijr:
adalah nama sebuah kota di Yamamah dimana pasar bisnis bersamaan
dengan Nazat. Terakhir, pasar yang terletak diluar semenajung Arabia
yang sering didatangi Muhammad adalah Busra (Syiria). Praktis beliau
telah mengunjunggi daerah-daerah di Arabia Utara, Selatan, Timur dan
Barat untuk berbisnis. Sebuah kerja keras yang luar biasa. Sehingga
memiliki pengalaman berbisnis yang sangat banyak. Berinteraksi dan
berkompetisi dengan pebisnis regional dan pebisnis dari negari-negari
timur jauh serta dari wilayah-wilayah lainnya.

Beliau mulai mengurangi aktivitas bisnis ketika sudah berusia 37-an
dan terutama sesudah datangnya Nubuwah (kenabian). Meski demikian
naluri kebiasaan dan penghargaan terhadap bisnis masih tetap tinggi.
Beliau tetap pernah beraktivitas bisnis. Anas meriwayatkan bahwa Nabi
pernah menawarkan sebuah kain pelana dan bejana untuk minum seraya
mengatakan, "Siapa yang ingin membeli kain pelana dan bejana air
minum?" Seorang laki-laki menawarnya seharga satu dirham, dan Nabi
menanyakan apakah ada orang yang akan membayar lebih mahal. Seorang
laki-laki menawar padanya dengan harga dua dirham, dan beliapun
menjual barang tersebut padanya (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan I

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar