Senin, 30 Januari 2012

Rahasia Mencapai Masyarakat Adil Dan Makmur di Indonesia telah tercantum dalam Al Quran


Allah berfirman :
 "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS.Al A'raaf:96-99)

Dari ayat diatas, Al Quran telah menyebutkan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran suatu negeri tergantung pada penduduknya. Jika penduduknya beriman dan bertaqwa, maka Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Dan jika mereka ingkar, maka Allah akan mengadzab mereka dengan berbagai adzab(musibah) karena kesalahan mereka sendiri.
Melihat persentase penduduk muslim Indonesia yang mencapai 85,1% dari seluruh penduduk Indonesia, maka mereka sangat berperan sekali dalam memakmurkan negeri ini, jika sebagian besar mereka, beriman dan bertaqwa sesuai yang dimaksudkan dalam QS.Al A'raaf:96-99 maka Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi.     
Pertanyaannya sekarang, apa kriteria atau standart disebut sebagai orang yang beriman dan bertaqwa yang benar sesuai dengan ayat diatas?
Kita tidak boleh mengatakan dengan tanpa dasar dari Al Quran sendiri bahwa dari kelompok-kelompok islam(organisasi islam) yg ada di Indonesia, salah satu dari mereka yang benar. Kita harus mengembalikan pertanyaan ini ke dalam kandungan ayat-ayat Al Quran. Karena ternyata orang-orang yang beriman, bertaqwa, orang yang benar, beruntung telah disebutkan dalam Al Quran dan dijelaskan secara jelas dalam Al Quran serta dipertegas lagi dalam beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan mereka bukan fiktif(tidak pernah ada), mereka pernah hidup didunia ini, merekalah para sahabat Rasulullah, yang diridhoi oleh Allah, disebutkan sebagai ummat terbaik yang pernah dilahirkan untuk manusia, dan kepada mereka, Allah telah menjanjikan mereka masuk surgaNya.
Berikut kami cantumkan dalil-dalil tentang kemuliaan mereka.

QS.Al Fath:10
"Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia(para sahabat) kepada kamu(Muhammad) sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu(adzab) akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar." 

Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Muhammad adalah utusan Allah beserta orang-orang yang bersamanya adalah bersikap keras kepada orang-orang kafir dan saling menyayangi sesama mereka. Engkau lihat mereka itu ruku' dan sujud senantiasa mengharapkan karunia dari Allah dan keridhaan-Nya." (QS. Al Fath:29).

"Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin(para sahabat) tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa."(QS. Al Fath:12)
 
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan meninggalkan harta-harta mereka karena mengharapkan keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya demi menolong agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Sedangkan orang-orang yang tinggal di negeri tersebut (Anshar) dan beriman sebelum mereka juga mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin) dan di dalam hati mereka tidak ada rasa butuh terhadap apa yang mereka berikan dan mereka lebih mengutamakan saudaranya daripada diri mereka sendiri walaupun mereka juga sedang berada dalam kesulitan." (QS. Al Hasyr : 8-9)

Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman (para sahabat Nabi) ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon (Bai'atu Ridwan). Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat." (QS. Al Fath : 18)

Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan orang-orang yang terlebih dulu (berjasa kepada Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah telah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha mepada Allah. dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar." (QS. At Taubah : 100)

Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Pada hari dimana Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya(para sahabat). Cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka." (QS. At Tahrim : 8) (lihat Al Is'aad, hal. 77-78)

Begitu banyak pujian Allah kepada para sahabat Rasulullah dalam Al Quran menjelaskan dengan tegas dan terang bahwa merekalah orang-orang yang beriman serta bertaqwa standard Al Quran, kepada mereka(para sahabat)dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik(pemahaman aqidah, beragama, cara beragama)dijanjikan surga oleh Allah subhanahu wa ta'ala(lihat QS.At Taubah ayat 100). 

Sementara di dalam hadits Rasulullah juga tercantum kemuliaan dan keutamaan para sahabat, yang menyebutkan mereka sebagai generasi terbaik dalam umat beliau. Berikut hadits-hadits tentang kemuliaan para sahabat:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya." (Muttafaq 'alaih)

Beliau juga bersabda, "Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi'in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi'ut tabi'in)." (Muttafaq 'alaih)

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bintang-bintang itu adalah amanat bagi langit. Apabila bintang-bintang itu telah musnah maka tibalah kiamat yang dijanjikan akan menimpa langit. Sedangkan aku adalah amanat bagi para sahabatku. Apabila aku telah pergi maka tibalah apa yang dijanjikan Allah akan terjadi kepada para sahabatku. Sedangkan para sahabatku adalah amanat bagi umatku. Sehingga apabila para sahabatku telah pergi maka akan datanglah sesuatu (perselisihan dan perpecahan, red) yang sudah dijanjikan Allah akan terjadi kepada umatku ini." (HR. Muslim)

Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mencela para sahabatku maka dia berhak mendapatkan laknat dari Allah, laknat para malaikat dan laknat dari seluruh umat manusia." (Ash Shahihah : 234)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Apabila disebutkan tentang para sahabatku maka diamlah." (Ash Shahihah : 24) (lihat Al Is'aad, hal. 78)

Sehingga setelah jelas bahwa yang disebut oleh Allah dalam Al Quran dan dijelaskan dalam Hadits Rasulullah tentang orang-orang yang beriman, bertaqwa, yang dijanjikan masuk surga adalah para sahabat dan dijanjikan pula bagi orang-orang yang mengikuti(mencontoh) mereka dengan baik akan masuk surge pula, maka hanya orang-orang Islam yang tidak waras saja yang menjadikan orang-orang selain para sahabat sebagai contoh atau teladan dalam beragama, karena ini berasal dari kebenaran(dari Kitabullah dan Sunnah), seandainya mereka manusia yang normal dan benar-benar beriman,maka akan menjadikan para sahabat sebagai suri tauladan mereka dalam beragama. Mereka,para sahabat adalah manusia biasa(bukan para Nabi dan Rasul), mereka sama seperti kita semua tetapi cara beragama merekalah yang terbaik diantara manusia biasa yang bisa kita contoh. Hal ini kami ungkapkan karena ada beberapa orang yang mengatakan bahwa kita tidak dapat mencontoh Rasulullah karena beliau adalah seorang Rasul yang dijaga oleh Allah, sementara manusia biasa tidak. Makanya untuk orang-orang yang memiliki pemahaman seperti itu, ketika contoh para sahabat Rasulullah yang diajukan sebagai contoh,maka mereka tidak bisa beralasan lagi. Meskipun sebenarnya contoh umat muslim yang ideal adalah Rasulullah dan para sahabatnya, karena sebenarnya Allah telah memudahkan agama Islam ini sehingga pada dasarnya semua manusia dapat menjalankan seluruh ibadah yang tercantum didalamnya serta dapat menjauhi semua larangan yang tercantum didalam ajarannya.

Ketika kita, masyarakat muslim Indonesia sudah memahami dan mencontoh pemahaman serta cara beragama para sahabat Rasulullah dengan baik maka hal tersebut akan mengantarkan kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa sesuai ayat-ayat Al Quran. Dan ketika banyak dari penduduk muslim Indonesia mencapai keimanan dan ketaqwaan tersebut maka Allah pasti akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi, menjauhkan Indonesia dari berbagai macam bencana alam, serta akan memunculkan dari masyarakat yang beriman tersebut para pemimpin yang amanah, baik akhlaknya, jujur, serta adil. Seperti nasihat yang di sampaikan Rasulullah kepada para sahabatnya yaitu agar mereka bersabar ketika menjumpai penguasa yang dzalim, tidak boleh mencoba menjatuhkan mereka, menghasut orang untuk menurunkan mereka meskipun mereka telah mendzalimi rakyatnya(namun untuk sesuatu hal yang merupakan kemaksiatan kepada Allah dan RasulNya,maka kita tidak boleh mentaatinya). Karena seandainya mereka jatuh, maka akan lahir pemimpin atau pejabat yang dzalim yang lain. Karena adanya pemimpin yang dzalim(dijadikan orang yang dzalim sebagai pemimpin oleh Allah di negeri tersebut) di akibatkan karena dosa-dosa seluruh rakyatnya yang durhaka kepada Allah dan RasulNya, tidak taat dalam menjalankan ajaran agama sesuai Al Quran dan Sunnah. Sehingga cara yang paling baik untuk memunculkan pemimpin yang adil, amanah adalah dengan mendakwahkan kepada seluruh masyarakat tentang pemahaman dan cara beragama yang benar sesuai yang dicontohkan Rasulullah dan para murid beliau yaitu para sahabat.

Jalan keimanan dan ketaqwaan adalah satu jalan lurus tak bercabang, apalagi berbilang. Satu jalan yang ALLAH Subhaanahu wa ta'alaa pun mengatakan sebagai jalan-Nya.:
(Artinya: "Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang banyak, yang akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan ALLAH kepada kalian, agar kalian bertaqwa.") (Al An'aam:153)

Dan dihadits Rasulullah juga tercantum bahwa jalan kebenaran ini cuma satu, (Dari Abdullah bin Mas'ud -radhiallahu anhu-, berkata: Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menggambarkan bagi kami sebuah garis dengan tangannya, kemudian berkata,"Inilah jalan-ALLAH yang lurus." Dan kemudian beliau membuatkan garis-garis lain di sebelah kiri dan kanan garis tadi, kemudian berkata, "Inilah As-Subul (jalan-jalan yang banyak). Tidak satupun dari jalan-jalan itu kecuali ada syaithan yang menyeru kepadanya." Kemudian beliau membaca -(Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan ini, dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang banyak, yang akan menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya).

Sehingga telah jelas bahwa jalan kebenaran ini hanya satu yaitu jalan para Nabi dan Rasul, serta para sahabatnya dan para pengikutnya yang setia memegang teguh ajaran para Rasul tersebut,dan meninggalkan segala hal yang tidak pernah dicontohkan oleh para Rasulnya. Jadi telah jelas, selama cara beragama umat Islam di Indonesia ini tidak mengambil dasar dari Al Quran dan Sunnah atau mengambil dasar yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya, maka tidak akan mencapai keimanan dan ketaqwaan yang diinginkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.Dengan kata lain jika keimanan dan ketaqwaan yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah tersebut tidak tercapai,maka kemakmuran dan kesejahteraan,kepemimpinan yang adil yang diharapkan seluruh bangsa ini tidak akan pernah terwujud. Karena tidak ada keimanan dan ketaqwaan yang benar selain jalan atau keimanan,ketaqwaan yang telah dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu marilah kita beragama sesuai beragamanya Rasulullah dan para sahabatnya, pemahaman syahadatnya sesuai pemahaman mereka(Rasulullah dan para sahabatnya), sholatnya sesuai sholat Rasulullah, puasa sesuai puasa Rasulullah, zakatnya sesuai bagaimana Rasulullah mencontohkannya, demikian pula haji dan ibadah-ibadah yang lain. Berikut penjelasan tentang tidak bolehnya ada tambahan dalam urusan agama(islam) ini selain yang sudah ada dalam Al Quran dan Sunnah karena agama ini telah sempurna:
Allah subhanahu wa ta`ala berfirman :
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku cukupkan bagi kalian nikmat-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." (QS. Al Maidah : 3)
Berikut penjelasannya tentang ibadah yang diada-adakan yang akan tertolak: 

Penulis: Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari
Ibadah itu pada asalnya haram untuk dikerjakan bila tidak ada dalil yang memerintahkannya. Inilah kaidah yang harus dipegang oleh setiap muslim sehingga tidak bermudah-mudah membuat amalan yang tidak ada perintahnya baik dari Allah maupun Rasulullah.

Nabi kita yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bertutur dalam haditsnya yang agung :

"Siapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami yang hal tersebut bukan dari agama ini maka perkara itu ditolak
."(HR.Bukhari Muslim)

Hadits yang dibawakan oleh istri beliau yang mulia Ummul Mukminin Aisyah radliallahu 'anha ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam shahihnya, pada kitab Ash Shulh, bab Idzaashthalahuu `ala shulhi jawrin fash shulhu marduud no. 2697 dan diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam shahihnya, pada kitab Al Aqdliyyah yang diberi judul bab oleh Imam Nawawi rahimahullah selaku pensyarah (yang memberi penjelasan) terhadap hadits-hadits dalam Shahih Muslim, bab Naqdlul ahkam al bathilah wa raddu muhdatsaati umuur, no. 1718. Imam Muslim rahimahullah juga membawakan lafaz yang lain dari hadits di atas, yaitu :

"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh sebagian imam ahli hadits dalam kitab-kitab mereka. Dan kami mencukupkan takhrijnya pada shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
"Hadits ini merupakan kaidah yang agung dari kaidah-kaidah Islam." Beliau menambahkan lagi: "Hadits ini termasuk hadits yang sepatutnya dihafalkan dan digunakan dalam membatilkan seluruh kemungkaran dan seharusnya hadits ini disebarluaskan untuk diambil sebagai dalil." ( Syarah Shahih Muslim)

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani rahimahullah setelah membawakan hadits ini dalam syarahnya terhadap kitab Shahih Bukhari, beliau berkomentar :
"Hadits ini terhitung sebagai pokok dari pokok-pokok Islam dan satu kaidah dari kaidah-kaidah agama." (Fathul Bari)

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah dalam kitabnya Jami`ul Ulum wal Hikam juga memuji kedudukan hadits ini, beliau berkata :

"Hadits ini merupakan pokok yang agung dari pokok-pokok Islam. Dia seperti timbangan bagi amalan-amalan dalam dzahirnya sebagaimana hadits: (amal itu tergantung pada niatnya) merupakan timbangan bagi amalan-amalan dalam batinnya. Maka setiap amalan yang tidak diniatkan untuk mendapatkan wajah Allah tidaklah bagi pelakunya mendapatkan pahala atas amalannya itu, demikian pula setiap amalan yang tidak ada padanya perintah dari Allah dan rasulnya maka amalan itu tidak diterima dari pelakunya. (Jami`ul Ulum wal Hikam, 1/176)

Agama(ISLAM) Ini telah Sempurna

Wallahu ta'ala a'lam.                        

Kunci Kejayaan Bangsa Indonesia, Tidak ada yang lain lagi

by adhin busro

Kejujuran semakin langka ditemukan dikalangan bangsa Indonesia apalagi para pemimpinnya. Ketidak jujuran rakyat dimulai dari ketidak jujuran para pemimpinnya. Para pemimpin bangsa Indonesia mayoritas berperilaku tidak jujur seperti melakukan korupsi, kolusi, manipulasi, suap dan sebagainya. Memprihatinkan bagi rakyat dan bangsa Indonesia..

Kalau zaman sekarang terkadang kita pusing, Para politisi ngomongnya selalu berubah-ubah setiap waktu, jadi tidak adanya kesatuan antara kata dan perbuatan, mereka tidak jujur dan hanya menjadi lip service belaka. Kita berlindung kepada Allah dari tidak satunya ucapan dengan perbuatan. Naudzubillah min dzalik

Rakyat sudah putus asa lagi putus harapan terhadap yang terhormat pemimpin kita. Rasa-rasanya sudah mau muntah, jijik melihat tingkah polah pemimpin yang kotor. Mulutnya manis semanis madu tapi hati dan tindak-tanduknya busuk seperti bangkai. Mungkin terlalu berlebihan, namun begitulah yang rakyat rasakan. Yang setuju bilang setuju, yang tersinggung biarlah tersinggung

Saya amati kita sudah lupa dengan namanya dosa dan balasan akhirat. Penyakit cinta dunia dan takut mati merasuk dalam jiwa bangsa. Keislamannya hanya sampai tenggorokan saja. Pantaslah Allah SWT menurunkan azab dengan berbagai bencana silih berganti tak henti-henti. Sunami, gunung meletus, gempa adalah beberapa fenomena alam yang tidak kuat menanggung dosa negeri pertiwi ini. Kesenjangan sosial, kemiskinan, pembunuhan, pemerkosaan dan lain-lain ibarat makanan yang tiap hari kita tonton. Miris rasanya hati ini melihat kondisi bangsa yang amat memprihatinkan.

Banyak yang mengaku pandai dan pintar mencoba menyusun formula untuk kesejahteraan bangsa. Apalah itu yang namanya program-program kesejahteraan, pengentasan kemiskinan dll yang pada intinya program-program dangkal yang makin menjauh dari solusi yang di tawarkan Al Qur'an. Solusi Thogut terus dipertahankan... Solusi yahudi di bela sampai mati, solusi Qur'an di buang. Hebat sekali si Yahudi.. Apakah anda melihat ada perbaikan? Nothing. yang ada hanyalah tambah miskin dan tambah kacau negeri ini.

Hey, tengoklah Al Qur'an. Lihat surat Al A'raf 96. Jelas dan gamblang syarat sebuah negeri bisa jaya dan makmur hanyalah 2 hal, yakni beriman dan bertaqwa. Iman artinya percaya bahwa kepada Allah saja, bahwa hasil akhir Allah yang tentukan. tentunya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah Maha Kuasa untuk menjadikan Negeri ini jaya dan Makmur.  Terapkan apa-apa yang memang di perintahkan Allah. Hukum Allah tegakkan bukan hukum thagut. Faham???

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri". (Al -A'raf: 96).


Hai para pemimpin negeri. Kami rakyat Indonesia menyerahkan kepemimpinan bangsa kepada anda. Berpegang teguhlah kepada metode atau cara Allah SWT dalam memimpin negeri ini. Sekali-kali bukan hukum taghut yang selama ini kalian percayai dan bela sampai mati. Insya Allah negeri ini aman sentausa. 

"baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur." Suatu negeri yang sejahtera makmur dan dinaungi Allah Yang Maha Pengampun. Alangkah indahnya jika kita bertekad menuju kesana. Kita bisa berpedoman pada firman Allah: "Andaikan penduduk negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan bukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi."

Manakala beriman dan bertaqwa kepada Allah, dijamin akan dibukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi. Allah SWT akan menurunkan hujan secara teratur yang membuat tanah menjadi subur yang diperlukan manusia. Namun manakala umat dibawa dan diarahkan kepada ganguan iman dan taqwa, niscaya keinginan untuk mencapai negara makmur dan sejahtera hanya impian belaka dan mustahil bisa tercapai,

Namun yang kami lihat anda wahai pemimpin negeri Indonesia telah melukai hati kami. Sungguh kami menangis tak berdaya melihat kelakuan engkau yang bak binatang. Sikut sana sini saling telikung. Yang bisa kami lakukan adalah semoga anda bertaubat sebelum terlambat. Jika anda masih melukai kami ingatlah, kami tidak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT untuk di timpakan azab kepada anda dengan kehinaan dunia Akhirat. Semoga Allah mengganti anda-anda semua dengan generasi pemimpin baru yang beriman dan bertaqwa. Yang mengasihi dan menyayangi rakyat dan bangsanya secara tulus.

Rabu, 21 Desember 2011

Presiden SBY: Indonesia Harus Bangkitkan Kejayaan Islam

Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap Indonesia dapat menjadi garda terdepan untuk kebangkitan kembali kejayaan peradaban Islam. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya dapat menyumbang banyak untuk membangkitkan kembali peradaban emas Islam seperti 14 abad silam. Harapan ini disampaikan Presiden SBY dalam pidatonya pada peringatan Isra Miraj 1431 di Istana Negara, Jumat (9/7) malam.

"Negara-negara Islam di dunia juga meletakkan harapan kepada bangsa kita sebagai salah satu pemimpin kebangkitan kembali kejayaan Islam di abad ke-21," ujar Presiden SBY, seperti ditulis Antara. Peradaban Islam sesungguhnya adalah bagian dari puncak peradaban manusia yang dapat tumbuh berdampingan dengan peradaban umat lainnya di dunia secara damai.

Presiden SBY meminta masyarakat Indonesia harus berperan aktif dan menjadi pelaku dalam kemajuan dunia Islam. Umat Islam di Indonesia dan umat Islam dari negara lain juga harus aktif berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.

Ajaran Islam, lanjut Presiden SBY, juga membawa tata nilai dan budaya yang berorientasi pada perilaku dan cara pandang kreatif, inovatif, dan berkeadaban. Ini semua dapat melahirkan tatanan masyarakat maju dan berpengetahuan. "Tata nilai dan budaya yang luhur dari Peradaban Islam itu yang harus terus kita wariskan dan kita kembangkan," ujar Presiden SBY.(ULF)

Indonesia Akan Menjadi Negara "Super Power"

Komhukum (Kuala Lumpur) - Indonesia memiliki peluang menjadi negara "super power" di abad 21 ini mengingat sebagai negara berpenduduk besar, memiliki etos kerja, semangat tinggi untuk mengubah nasib dan berpikiran maju. 

"Oleh karena itu, siapa pun tidak boleh memandang remeh dan rendah apalagi hina terhadap bangsa Indonesia karena bangsa Indonesia akan menjadi negara super power di abad 21," kata anggota Eminent Persons Group (EPG) Indonesia, Dr Musni Umar, ketika menjadi pembicara hari pertama dalam konferensi dua hari yang bertajuk "The Future Malaysia-Indonesia Relations" di Kuala Lumpur, Senin (25/7).
 
Menurutnya, sekurang-kurangnya ada lima hal yang dimiliki bangsa Indonesia untuk maju menjadi negara besar di pertengahan abad 21.
 
Pertama, memiliki penduduk yang besar dan etos kerja, serta semangat tinggi untuk mengubah nasib dan maju. Ini modal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk maju meraih kejayaan.
 
Kedua, memiliki kekayaan alam yang luar biasa yang selama ini belum dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran seluruh bangsa Indonesia.
 
Sekarang ini, kata dia, masih dikuasai dan dijarah oleh kekuatan neo imperialisme dan neo kapitalisme. "Ini harus segera dihentikan," tegasnya.
 
Ketiga, bangsa ini telah memiliki banyak putera-puteri terbaik yang berpendidikan tinggi, berdedikasi, dan bersemangat tinggi untuk membangun Indonesia yang maju, mandiri dan sejahtera.
 
Keempat, telah muncul pemimpin-pemimpin lokal yang berwawasan nasional dan berhasil membangun daerahnya. Kemajuan daerah bisa menjadi bola bagi kemajuan nasional bangsa Indonesia.
 
Kelima, proses demokrasi yang sedang berjalan, pada saatnya akan mengalami kematangan.
 
Pada saat itu, kata dia, masyarakat Indonesia bisa memilih pemimpin yang diperlukan untuk memandu, memberi contoh teladan dan memimpin seluruh bangsa Indonesia untuk meraih kemajuan dan kejayaan.
 
Pada hari pertama dalam konferensi ini berbicara pula dari Indonesia, Dekan FISIP UIN Jakarta Prof Dr Bahtiar Effendy dan anggota DPR RI, M. Najib.
 
Sedangkan dari Malaysia turut berbicara pakar media dari Universitas Malaya, Prof Datuk Dr Abdul Latif Abu Bakar, mantan duta besar Malaysia, B. A. Hamzah, dan pelaku media di Malaysia, Zainon Ahmad.
 
Namun demikian, dia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus menyadari bahwa bangsa lain di dunia yang sudah maju tidak akan pernah mau melihat bangsa Indonesia maju karena mereka mempunyai kepentingan ekonomi, politik dan pertahanan keamanan.(K-5)

Merindukan Kerajaan Nusantara Abad-21

Indonesia dulu pernah jaya dan disegani oleh dunia, ketika itu diwakili oleh Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 dan Majapahit pada abad ke-14. Pada masa jayanya kerajaan Sriwijaya menguasai seluruh Sumatera, sebagian Jawa, bahkan hingga semenanjung Melayu. Jalur perdagangannya jauh menyeberangi lautan hingga ke negeri Cina dan India serta Sri Lanka. Oleh karena itu Kerajaan Sriwijaya dapat dikatakan sebagai kerajaan maritim pertama di Nusantara (lihat om Wiki disini). Serbuan kerajaan Colamandala dari India menghancurkan jalur perdagangan sekaligus meruntuhkan masa jaya kerajaan ini pada abad ke-12.

Tujuh abad kemudian giliran Kerajaan Majapahit, dengan patihnya Gadjah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, bergantian menguasai Nusantara dan wilayah sekitarnya. Cakupan wilayah Majapahit jauh lebih besar daripada Sriwijaya, meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia sekarang, kecuali Padjadjaran, bahkan hingga semenanjung Melayu dan sebagian Philipina sekarang. Walaupun menguasai seluruh Nusantara, namun kerajaan Majapahit juga dikenal sebagai negara agraris yang menyiapkan lumbung-lumbung padi bagi logistik tentara maupun masyarakatnya (lihat Wiki disini). Rajanya yang terkenal adalah Hayam Wuruk, yang bersama Gadjah Mada memulai ekspansi ke seluruh wilayah Nusantara dan sekitarnya. Namun perang saudara melemahkan kerajaan tersebut hingga runtuh pada abad ke-15 di kala kekuasaan kerajaan Islam mulai tumbuh di seantero Nusantara. Kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung juga berupaya untuk mengembalikan kejayaan Majapahit, namun keburu gagal karena Belanda sudah terlanjur masuk ke Nusantara.

Bila diperhatikan, siklus kedua kerajaan besar itu berlangsung dalam tujuh abad sekali. Saat ini sudah tujuh abad berlalu dari masa jaya Kerajaan Majapahit, namun belum tampak tanda-tanda ke arah kejayaan bangsa di Nusantara. Demokrasi yang telah dibangun selama ini ternyata belum mampu meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Bandul kesejahteraan masih bergoyang pada kelompok-kelompok tertentu yang dekat dengan kekuasaan atau memang berusaha mandiri tanpa tergantung pemerintah. Sementara di sisi lain kondisi masyarakat masih memrihatinkan dan belum mentas, malah cenderung semakin membesar, walaupun data BPS mengatakan sebaliknya.

Di negara-negara timur, kharisma atau ketokohan masih ikut menentukan hidup matinya suatu bangsa. Negara-negara berbasis kerajaan hidupnya relatif tenang dan agak sedikit makmur karena masih ada raja yang dihormati rakyat, bisa dilihat pada Kerajaan Jepang, Thailang, Brunai, Saudi, dan Kerajaan Federal Malaysia. Walaupun ada pergolakan, namun ketika sang raja turun tangan, situasi menjadi reda seperti kejadian di Thailand. Demikian pula negara-negara berbasis semi kerajaan seperti Singapura, Cina, Vietnam, perlahan namun pasti merangkak maju ke depan. Namun ketika negeri yang benar-benar menerapkan demokrasi secara utuh, ketika sang tokoh yang dicintai tidak ada lagi, pergolakan seolah terjadi hampir setiap periode tertentu. Lihat di India, Pakistan, Philipina, Libanon, Suriah, cenderung kekerasan lebih mengemuka daripada musyawarah. Indonesia masih lumayan, tidak sampai terjadi kekerasan, namun pergolakan seolah tiada habisnya. Hanya Korsel dan Taiwan mungkin yang tidak terlalu kedengaran dan relatif lebih makmur dari yang lain. Rasanya lelah sudah berdemokrasi bila rakyat dan pemerintahnya belum menjadi dewasa.

Siklus 700 tahun & Trend Kejayaan Indonesia

Ada tulisan menarik dari rekan Ippho Santosa.

Kalo kita terbiasa mencari & mengamati suatu Trend, terlihat ada trend kejayaan Indonesia yang puncaknya berulang dengan siklus setiap 700 tahunan.

Apakah trend tersebut akan berlanjut?

"History repeat itself"?

——————–

Subject: Rahasia 700 Tahun !!!

Ada satu fenomena menarik:

— Pada 700 tahun yang pertama, tepatnya pada abad ke-7 negeri ini pernah jaya. Kita mengenalnya sebagai Sriwijaya.

— Dan 700 tahun pun berlalu. Pada 700 tahun yang kedua, tepatnya pada abad ke-14, negeri ini kembali jaya. Kita mengenalnya sebagai Majapahit.

— Dan 700 tahun pun berlalu. Sekarang, pada 700 tahun yang ketiga, tepatnya pada abad ke-21, semestinya negeri ini kembali jaya. Kita terlanjur mengenalnya sebagai Indonesia.

Sungguh, siklus jaya 700 tahun ini amat kami yakini. Itu pula yang spiritualis Ary Ginanjar yakini. Bahkan motivator Malaysia, Billi Lim, terang-terangan menegaskan kepada kami bahwa bintang Asia berikutnya adalah Indonesia. Bukan China! Bukan India! Bukan pula Malaysia –negerinya Billi Lim! Salah satu alasannya, krisis ekonomi yang tiada henti dan bencana alam yang silih berganti telah menempa stamina kita. Bagaimana menurut Anda?

Abad Ini Adalah Masa Keemasan Bagi Indonesia?

Sebelumnya untuk diketahui sebelumnya, Allah memberikan kejayaan kepada suatu kaum setelah melalui berbagai macam rintangan, halangan, cobaan maupun bencana. Karena hakikinya cobaan itu datang diikuti dengan kenaikan level, tingkat dan semacan itu

Nah, kalau ada yang bertanya apa hubungan antara pola, cobaan dan masa keemasan Indonesia? Maka simak ulasan singkat dibawah ini.
Secara pola yang ada, Allah memberikan kejayaan pada suatu kaum secara bergantian selama kurang lebih 7 abad. Dan tentunya sebelum memberikan kejayaan itu Allah memberikan cobaan terlebih dahulu. Berikut ini kaum-kaum tersebut:

1. Kerajaan Romawi
Abad 1-7
Kerajaan ini memperoleh kejayaan dan dikenal di seluruh penjuru dunia karena penakhlukannya yang hebat. Sebelum kerajaan ini berjaya, dahulunya merupana sekumpulan kecil kelompok yang berhasil menakhlukkan kerajaan-kerajaan di daratan Italia dan sekitarnya. Setelah abad ke-7, kerajaan tersebut runtuh.

2. Al-Andalus
Abad 7-14
Al Andalus merupakan wilayah di daratan Spanyol yang kala itu ditakhlukkan oleh orang-orang muslim. Disana telah tumbuh peradaban yang sangat hebat. Disaat eropa mengalami dark age atau jaman kegelapan setelah runtuhnya kerajaan Romawi, para ilmuan muslim disana telah menemukan bilangan biner, ilmu bedah, ilmu astronomi, tata kota dan lain-lain. Maka dari itu antara abad ke-7 s.d 14 ini sering disebut Golden Age of Islam.
Cobaan yang diterima bangsa muslim adalah tidak diterimanya agama ini di Arab. Tetapi berkat perjuangan Rasululullah SAW dan rahmat dari Allah, bangsa muslim tumbuh dengan cepat.
Tetapi peradaban bangsa Muslim di Al Andalus ini berakhir pada adad ke-14 karena desakan dari tentara salib.

3. Eropa & Amerika
Abad 14-21
Setelah mengalami cobaan yang berat, yaitu hidup pada masa jaman kegelapan, dimana mereka sangat tertinggal pada segala bidang kehidupan termasuk ilmu pengetahuan, bangsa Eropa mulai bangkit dan kebangkitan itu biasa disebut dengan Renaissance. Setelah mengusir bangsa muslim di Spanyol, mereka menyerap semua ilmu pengetahuan dari Al Andalus, sehingga muncullah nama-nama besar di bidang pengetahuan, seperti Leonardo da Vinci, Issac Newton, Albert Einstein, dll. Maka sejak itu dan sampai sekarang (abad 21), bangsa eropa dan amerika merupakan bangsa paling maju di dunia.
Tetapi keruntuhan mereka sudah terlihat tanda-tandanya. Diawali dengan krisis moneter dan hutang macet di beberapa negara eropa, khususnya Yunani. Moral yang kurang terjaga juga memperparah keadaan. Maka secara pola, abad ini adalah akhir dari kejayaan mereka.

4. Indonesia?
Abad 21-28
Indonesia telah mengalami cobaan yang bertubi-tubi dan sangat pedih. Mulai dari penjajahan belanda, jepang, pemberontakan, krisis moneter, bencana tsunami, lumpur lapindo, gunung merapi, korupsi merajalela.
Nah, maka secara pola, Indonesia masuk dalam kandidat calon bangsa yang berjaya selanjutnya :D
Apakah Indonesia akan mengalami Golden Age-nya? Maka kita sebagai generasi muda yang harus mengusahakannya. Saya yakin pasti itu terjadi :D

Sekian dari saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman :D
Wassalamualakum

— Rully Pratama